Jumat, 09 Desember 2011

Semantik (makna dan masalahnya)

Makna dan Masalahnya
A.    Pengertian Makna
Semantik adalah ilmu bahasa yang menelaah dan menggarap makna kata dan makna yang diperoleh dari masyarakat dari kata-kata (Tarigan, 1985: 155). Berdasarkan hal tersebut, kita dapat bahwa objek studi semantik adalah makna atau lebih tepat makna yang terdapat dalam satu satuan ujaran seperti kata, frasa, klausa dan kalimat. Masalah kita sekarang: apakah makna itu?
Sehubungan dengan pembahasan makna ini, dalam kamus umum Bahasa Indonesia makna adalah arti atau maksud (suatu kata). Memberikan sebuah arti ( maksud) suatu kata (Poerdawarminta, 1976: 624).
            Umpanya tanda linguistik yang dieja <meja>. Tanda ini terdiri dari unsur makna atau yang diartikan ‘meja’ dan unsure bunyi atau yang mengartikan dalam wujud runtutan fonem [m, e, j, a]. lalu tanda <meja> ini, yang  dalam  hal ini terdiri dari unsure makna dan unsure bunyinya mengacu kepada suatu referen yang berada di luar bahasa, yaitu sebuah meja, sebagai salah satu perabot rumah tangga. Tanda linguistic tidak selalu berwujud sebuah kata tetapi juga dapat berwujud gabungan kata seperti meja hijau yang bermakna ‘pengadilan’ sampul surat yang bermakna ‘amplop’
            Sebetulnya dalam bidang semantic, istilah yang biasa digunakan untuk tanda linguistik adalah leksem, yang lazim didefinisikan sebagai kata atau frasa yang merupakan satuan bermakna (Harimurti 1982: 98).  Sedangkan istilah kata, yang lazim didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri dan dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem (Harimurti, 1982:  76) adalah istilah dalam bidang gramatika kedua istilah ini dianggap memiliki pengertian yang sama sebab baik kata maupun leksem bisa berwujud kata tunggal maupun gabungan kata atau (frasa ideomatik). Bedanya hanya leksem adalah istilah dalam bidang semntik sedangkan kata adalah istilah dalam bidang gramatika.
            Hubungan antara kata dengan maknanya, seperti sudah disebutkan sebelumnya, memang bersifat arbitrer. Artinya, tidak ada hubungan wajib  antara deretan fonem pembentuk kata itu dengan maknanya. Namun, hubungannya bersifat konfensional artinya, disepakati oleh setiap anggota masyarakat suatu bahasa untuk mematuhi hubungan itu; sebab kalau tidak, komunikasi verbal yang dilakukan akan mendapat hambatan. Oleh karena itu, dapat dikatakan secara sinkronis hubungan antara kata dan maknanya (atau lebih tepat lagi: mkana sebuah kata) tidak akan berubah. Secara diakronis ada kemungkinan bisa berubah sesuai dengan perkembangan budaya dan masyarakat yang bersangkutan.
B.     Informasi
Di atas sudah disebutkan bahw makna adalah unsure dari sebuah kata atau lebih tepat sebagai gejala dalam ujaran. Maka dri itu, ada perinsip umum dalam semantic yang menyatakan bahwa kalau bentuk (maksudnya bentuk kata atau leksem) berbeda, maka makna pun berbeda, meskipun barangkali perbedaannya itu hanya sedikit. Jadi, kata ayah dan bapak karena bentuknya berbeda maka maknanya pun berbeda. Namun, sampai saat ini banyak orang, termasuk juga banyak linguis, yang menyatakan bahwa kata ayah sama maksudnya dengan bapak, sebab keduanya sama-sama mengacu pada orang tua laki-laki.
Sesungguhnya pendapat mereka itu keliru kalau dilihat dari prinsip umum di atas.  Di sini kiranya mereka mengacaukan pengertian tentang makna dengan pengertian  informasi. Makna adalah gejala dalam ujaran  sedangkan informasi addalah gejaa dalam ujaran. Kata ayah dan bapak memang member informasi yang sama, yaitu oang tua laki-laki tetapi maknanya tetap tidak persis sama karena bentuknya berbeda. Seperti dalam kalimat ini:
Ayah saya sakit
Kata ayah dapat diganti hingga menjadi
Bapak saya sakit
Tetapi dalam frasa,
bapak presiden yang terhormat
tidak dapat diganti
ayah presiden yang terhormat
Karena mengacaukan pengertian makna dengan informasi, maka banyak juga orang uang menyatakan suatu kalimat tertentu sama maknanya denagn parafrase dari kalimat itu. Inipun keliru, sebab parafrase tidak lain daripada rumusan informasi yang sama dalam bentuk ujaran yang lain. Jadi, kalimat Dika menendang bola  dapat dikatakan parafrase dari kalimat bola ditendang Dika, atau juga sbaliknya. Malah bait  puisi berikut ( dari Ali Hasyim)
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Ada juga prafrase dari kalimat saya sudah tua karena informasinya sama. Hanya rumusannya yang berbeda.
Di samping parafrase ada jug istilah perifrase, yaitu informasi yang sama dengan rumusn yang lebih panjang. Jadi, kalimat Bola ditendang oleh Dika adalah perifrase sari kalimat bola ditendang Dika, karena rumusannya lebih panjang yaitu dengan adanya preposisi oleh, begitu juga parafrase
Gadis yang mengenakan baju kuning itu adalah perifrase dari gadis yang berbaju kuning itu.



C.     Maksud
Selain innformasi sebagai sesuatu yang di luar ujaran ada lagi sesuatu yang lain yang juga di luar ujaran yaitu yang disebut maksud . informasi dan maksud  sama-sama sesuatu yang luar ujaran. Hanya bedanya kalau informasi itu merupakan sesuatu yang di luar ujaran dilihat dari segi objeknya atau yang dibicarakan; sedangkan makud dilihat dari segi si pengujar, orang yang berbicra, atau pihak subjekya. Disini orang yang berbcara itu mengujarkan suatu ujaran entah berupa kalimat maupun prase, tetai yng dimksudkannya tidak sama dengan makan lahiriah ujaran itu sendiri.
Contohnya,
Seorang pedagang asongan menawarkan barang dagangannya kepada para pengemudi atau penumpang kendaraan “koran, Koran?” atau “jeruk pak?” Padahal mereka tidak bermaksud bertanya melainkan bermaksud menawarkan. Maksud banyak digunakan dalam betuk ujaran yang disebut metafora, ironi, litotes, dan bentuk-bentuk gaya bahasa lain.
Untuk lebih memperjelas perbedaan makna, maksud dan informasi, perhatikan table di bawah ini

Istilah
Segi
(dalam keseluruhan peristiwa pengujaran)
Jenis semantic
MAKNA
Segi lingual atau dalam ujaran
Semantik kalimat gramatikal, dan leksikal
INFORMASI

Segi objektif (yakni segi yang dibicarakan)
(luar semantik; ekstra lingual)
MAKSUD
Segi subjektif (yakn di pihak pemakai bahasa)
Semantik maksud

D.    Tanda, Lambang, dan Definisi
grafis dasar dalam system aksara untuk menggabarkan atau merekam gagasan, kata, suku kata, fonem, atau bunyi. Tanda dalam bahasa Indonesia pertama-tama ialah berarti,’bekas’. Menurut Harimurti Kridalaksana tanda adalah guratan yang tampak pada permukaan, bersifat konfensional dan dipakai sebagai satuan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia tanda adalah yang menjadi alamat atau yang menyatakan sesuatu; dari kejauhan terdengar sirene—bahaya; gejala : sudah tampak—nya; bukti : itulah—bahwa mereka tidak mau bekerja sama; penunjuk.penegenal;
Lambang juga sebenarnya adalah tanda. Hanya bedanya lambang ini tidak memberi tanda secara langsung melainkan melalui sesuatu yang lain. Seperti gambar padi dan kapas pada burung Garuda Pancasila melambangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bunyi-bunyi bahasa atau satuan bahasa sebenarnya termasuk lambang sebab sifatnya konfensional. Lmbang bahasa ( entah berupa kata, gabugan kata, maupun satuan ujaran lainnya) sama dengan lambang dan tanda-tanda dalam bidang lain ‘ mewakili” suatu konsep yang berada di dunia ide atau pikiran kita.
Konsep sebagai referen dari satu lamabang memang tidak bisa “sempurna”. Oleh karena itulah kalau kita menyebut ( kursi) atau (pemuda) atau lambang apa saja, orang sering bertanya “apa yang anda maksud dengan kursi itu?” , tau juga” apa tau siapa yang anda maksud dengan pemuda itu?” . semua ini membuat orang berusaha merumuskan konsep-konsep yang ada dalam dunia idenya dalam suatu rumusan yang disebut definisi atau batasan.  Secara  umum definisi atau batasan ini memberi rumusan yang lebih teliti mengenai suatu konsep.

E.     Beberpa Kaidah Umum
Berikut ini beberapa kaidah umum yang perlu diperhatikan berkenaan studi semantic:
1.      Hubungan antara sebuah kata atau leksem dengan rujukan atau acaanya bersifat arbitrer dengan kata lain, tidak ada hubungan wajib antara keduanya.
2.      Secara sikronik makna sebuah kata atau leksem tidak berubah, secara diakronik ada kemungkinan berubah, maksudnya dalam jangka wakt terbatas makna sebuah kata tidak akan berubah tetapi dalam jangka waktu yang relative tidak terbatas ada kemungkinan bisa berubah, namun bukan berarti setiap kata akan berubah maknanya.
3.      Bentuk-bentuk yang berbeda akan berbeda pula maknanya. Maksudnya, kalau ada dua buah kata atau leksem yang bentuknya berbeda, meskipun perbednya sedikit tetapi maknanya pasti akan berbeda
4.      Setiap bahasa memiliki system semantic sendiri yang berbed dengan system semantic bahasa lain. Karena system semantic itu berkaitan erat dengan system budaya masyarakat pemakai bahasa itu, sedangkan system budayanya yang melatar belakangi setiap bahasa itu tidak sama.
5.      Makna setiap kata atau leksem dalam suatu bahasa sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup dan sikap anggota asyarakat yang bersangkutan. Misalnya, makna pada kata babi pada kelompok masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam tidak sama dengan kelompok masyarakat Indonesia yang bukan beragaa islam.
6.      Luasnya makna yang dikandung sebuah bentuk gramatikal berbanding terbalik dengan luasnya bentuk tersebut. Sebagai contoh bandigkan bentuk-bentuk:
a.       Kereta
b.      Kereta api
c.       Kereta api ekspres
d.      Kreta api ekspres malam
e.       Kereta api ekspres malam luar biasa.













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar