Jumat, 09 Desember 2011

Tes buatan guru dan tes standar


Pembicaraan tentang pembedaan jenis tes`berikut akan ditinjau dari segi penyusunannya, yaitu tes buatan guru dan tes standar, macam-macam  tes pengukur keberhasilan belajar, dan bentuk-bentuk tes.
1.   Tes Buatan Guru dan Tes Standar
Jenis tes dapat dibedakan kedalam tes buatan guru dan tes standar. Kedua tes tersebut walau sama-sama dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik mempunyai segi-segi perbedaan. Berikut akan dibicarakan sedikit tentang kedua macam tes tersebut.

a.              Tes Buatan Guru

Sesuai dengan namanya, buatan guru adalah tes yang dibuat oleh guru-guru kelas itu sendiri. Tes tersebut dimaksud untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik mencapai kompetensi setelah berlangsungnya proses pembelajaran yang dikelolah  oleh guru kelas yang bersangkutan. Penyusunan soal-soal tes yang dimaksudkan untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik tersebut, pada umumnya dilakukan oleh para guru bidang studi yang bersangkutan. Hal itu  memang menjadi kewajiban para guru yang mengukur capaian prestasi belajar peserta didik di kelas mata pelajarannya. Para guru itulah yang merumuskan kompetensi dasar dan indikator yang akan dibelajarkan, memilih bahan, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan kamudian menilai capaian peserta didik. Dalam keadaan seperti itum gurulah yang palig tahu apa yang dipelajari dan harus di ukur pada peserta didik di kelasnya sehingga dimungkinkan untuk membuat alat ukur tingkat.

Penyusunan butir-butir tes harus mendasarkan diri pada kompetensi dasar, indikator, dan deskripsi bahan yang telah diajarkan. Dalam hal ini mungkin sekali terdapat perbedaan antara guru yang satu dengan  yang lain waktu mereka satu mata pelajaran. Seorang guru mungkin saja mengambil bahan pembelajaran yang berbeda dengan guru yang lain walau kompetensi dasar yang diajarkan sama, misalnya sama-sama membelajarkan apresiasi sastra. Oleh karena itu, alat tes yang disusun oleh seorang guru hanya tepat diterapkan pada kelasnya sendiri, dan tidak pada kelas atau bahkan sekolah lain yang diajar oleh guru yang berbeda. Dangan demikian, tes buatan guru hanya mempunyai daya jangkau pakai yang terbatas.  Hasil atau skor yang dicapai peserta didik juga terbatas, dalam arti hanya dapat diperbandingkan dengan kawan-kawan sekelompoknya yang satu sekolah. Jika hasil tes itu dibandingkan dengan capaian siswa dari sekolah lain kurang tepat karena mungkin  sekali alat ukur dan cara penafsiran yang dilakukan guru yang mengetesnya tidak sama.

Pada umumnya, tes buatan guru tidak diujikan terlebih dahulu karena berbagai hal, baik yang menyangkut masalah waktu, kesempatan, tenaga, biaya, dan juga kemampuan guru itu sendiri untuk menganalisisnya. Apa yang disusun guru pada waktu itu, itulah kemudian yang diteskan, bahkan mungkin untuk berkali-kali. Kegiatan analisis dan  revisi butir-butir tes jarang (untuk tidak dikatakan tidak pernah) dilakukan. itulah  sebabnya taraf kepercayaan tes buatan guru sering dikatakan rendah, atau sebenarnya yang tepat adalah tidak diketahui secara pasti karena memang  jarang dilakukan pengujian kadar reabilitas terhadap alat tes, khususnya oleh guru yang bersangkutan. Kondisi yang demikian sebenarnya patut disayangkan.

Kelemahan tersebut sebenarnya mudah diatasi jika guru mau memelajari dan menerapkan tekhnik  penyusunan dan pengolahan hasil penilaian yang tepat. Untuk tes buatan guru yang paling diutamakan adalah adanya kesesuaian  antara tujuan (kompetensi dasar, indikator), deskripsi bahan, dan  alat penilaian. Hal ini merupakan persyaratan untuk pemenuhan validitas isi (content validity), sebuah tautan validitas yang mesti terpenuhi dalam sebuah alat tes. Untuk menentukan butir-butir  soal mana yang layak atau sebaliknya yang tidak layak, kita bisa melakukan pengetesan (mungkin ulangan umum, ujian  semester) yang pertama itu yang dianggap sebagai uji coba alat tes itu. Hasil analisisnya (termasuk pengujian dengan berbagai kriteria dan tekniknya akan dibicarakan di belakang)  kemudian dijadikan masukan untuk melakukan revisi. Setelah itu, alat tes tersebut barulah dipergunakan untuk keperluan pengukuran hasil belajar peserta didik.

Walau tes itu hanya buatan guru sendiri, idealnya juga memenuhi  kriteria validitas, kelayakan butir-butir soal, dan reabilitas. Namun, paling tidak alat tes itu disusun dengan acuan kisis-kisi dan butir-butir soalnya telah di telaah dan kemudian di revisi. Hal itu mengingat kegunaan tes itu yang sangat penting. Tes buatan guru terutama dimaksudkan untuk :
(i)             mengetahui kadar kompetensi yang dibelajarkan,
(ii)           umpan balik pembelajaran selanjutnya, dan
(iii)         memberikan nilai kepada peserta didik sebagai laporan hasil belajarnya di sekolah itu.
b.  Tes Standar
Tes standar sebagai kebalikan tes buatan guru adalah tes yang telah distandarkan. Tes standar sebenarnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tes bakat (aptitude test) dan tes prestasi (achievement test), walau keduanya mengandung unsur ketumpangtindihan. Tes standar yang akan dibicarakan berikut adalah tes standar berupa tes prestasi.
Pengertian standar dapat diartikan sebagai suatu tingkat kemampuan tertentu yang harus dimiliki peserta didik pada program-program tertentu. Program disini juga dapat diartikan sebagai jenjang dan satuan pendidikan tertentu, tingkat SD, SMP, SMA, atau SMK. Perkataan standar dalam tes lebih dimaksudkan bahwa tes tersebut dikerjakan oleh semua peserta didik dengan mengikuti petunjuk yang sama dan dalam batasan yang sama pula. Jadi, seolah-olah  ada suatu standar atau ukuran tertentu  yang juga akan menghasilkan penampilan yang standar tertentu pula. Oleh karena itu, kita dapat membandingkan  capaian prestasi antara kelompok satu kelompok (sekolah)  dengan kelompok (sekolah) lain karena memergunakan  alat  tes standar yang sama. Alat ukur ujian nasional (UN, Unas) sampai batas tertentu dapat dipandang sebagai tes standar, atau paling tidak dapat difungsikan mirip tes standar.
Penyusunan tes standar,  seperti halnya tes buatan guru, dimulai dengan membuat merumuskan kompetensi yang akan diukur, membuat deskripsi bahan, membuat kisi-kisi, dan kemudian menyusun butir-butir soal. Penulisan tes standar bisanya dilakukan oleh sebuah tim yang sengaja dibentuk. Seleksi bahan dan tujuan didasarkan pada kurikulum atau buku-buku tes yang dipakai secara nasional (Tuckman, 1995:373).
Setelah penyusunan butir-butir soal selesai, tes tersebut diujicobakan kepada sejumlah peserta didik. Kegiatan ujicoba itu merupakan bagian tidak terpisahkan dalam pengembangan tes standar. Ujicoba tidak dimaksudkan untuk mengukur prestasi peserta didik yang dijadikan sampel pengujian itu, melainkan untuk menentukan kelayakan butir-butir soal yang diujicobakan. Hasil ujicoba itu kemudian dianalisis, yang berupa analisis butir soal untuk memeroleh indeks tingkat kesulitan dan daya pembeda serta penghitungan indeks reabilitas. Butir-butir soal yang terlalu mudah atau terlalu sulit  dan rendah daya pembedanya direvisi atau diganti. Di samping itu, butir-butir soal yang reaksinya kurang jelas atau bersifat mendua diperjelas sehingga tidak membingungkan.
Tes standar bersifat seragam dan dipergunakan disemua sekolah, jadi bersifat nasional dan dapat dipakai berkali-kali. Oleh karena alat tesnya seragam disemua sekolah itu, untuk menafsirkanya, dimungkinkan memergunakan norma untuk seluruh sekolah atau bersifat nasional. Hal ini berbeda dengan tes buatan guru yang hanya dapat memergunakan  norma untuk kelompok terbatas, yaitu pada kelas- kelas yang dites dengan alat tes itu saja. Penggunaan norma inilah antara lain yang juga membedakan tes standar dengan tes  buatan guru.
Perbedaan antara tes buatan guru dan tes standar yang lain, di samping secara implikasi telah dibicarakan di atas, adalah  yang mencangkup masalah kelayakan (appropriateness), kesahihan (validity), keterpercayaan (reability), dan ketertafsiran (interpretability) (Tuckman, 1975:375:379).
Kelayakan tes menyaran kesesuaian antara tujuan dan butir-butir tes. Tes buatan guru didasarkan pada indikator-indikator yang dirumuskannya sendiri, maka tentunya tes itu memunyai tingkat kelayakan yang tinggi. Tes standar pada pihak lain, didasarkan pada tujuan umum (standar kompetensi, kompetensi dasar) yang diharaokan dapat merangkum semua indikator yang disusun guru diberbagai sekolah. Hal ini berkaitan dengan tujuan penyusunan tes standar yang akan diteskan ke semua sekolah di sebuah negara. Dengan demikian tingkat kelayakan tes standar dikaitkan dengan tujuan-tujuan umum per bidang  seperti dalam kurikulum.
Tes standar biasanya telah dilengkapi dengan sebuah manual yang berisi petunjuk tentang pelaksanaan tes, penyekoran, dan penafsiran terhadap hasil tes. Manual juga memuat keterangan tentang proses standarisasi seperti kegiatan uji coba, analisis hasil revisi, dan juga informasi tentang tingginya taraf validitas dan reliabilitas tes. Hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan  dalam tes buatan guru. Guru sendiri sering tak mengerti seberapa tinggi tingkat validitas dan reliabilitas tes yang disusunnya berhubung tidak pernah dilakukan pengujian terhadap keduanya.
Kegunaan tes standar. Tes standar mempunyai berbagai kegunaan dan beberapa diantaranya akan dikemukakan di bawah ini. Pertama, kegunaan tes standar yang utama dan esensial adalah untuk melengkapi informasi tertentu tentang tingkat hasil belajar  peserta didik (Ebel, 1979:317). Dikatakan informasi tertentu (khusus) karena didasarkan pada penguasaan  atas mata-mata pelajaran  tertentu yang diberikan oleh guru-guru yang tertentu pula.
Kedua, hasil tes standar dapat dipergunakan untuk membut  perbandingan prestasi yang dicapai peserta didik antarsekolah, baik dalam mata pelajaran yang sama maupun antar mata pelajaran. Dengan melihat hasil tes standar itu akan diketahui perbandingan prestasi yang dicapai oleh antar sekolah, sekolah mana tergolong prestasi atau yang sebaliknya, dan hal itu bisa mendorong adanya persaingan yang sehat. Perbandingan prestasi tersebut tidak hanya untuk antar sekolah, antar  waktu, melainkan  juga antarindividu  dan antarkelas dalam satu sekolah. Barangkali hal inilah antara lain yang menjadi pertimbangan masih dilakukannya ujian nasionaldi Indinesia.
Disamping untuk kegunaan-kegunaan di atas, jika tes itu diberikan pada awal atau masih berlangsungnya kegiatan pembelajaran, tes standar dapat di manfaatkan untuk (i) menengkapkan peserta didik dalam tingkat pembelajaran yang sesuai dengan kemampuannya, (ii) menyusun pembelajaran yang bersifat individual (individualized intruction), dan (iii) menyusun dan melaksanakan program pembelajaran  remedial (Ebel, 1979:318).


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

1.      Pengumpulan informasi  lewat  teknik tes lasimnya dilakukan lewat pemberian separangkat tugas, latihan, atau pertanyaan yang harus dikerjakan oleh peserta didik (testi, tercoba) yang sedang di tes.
2.      Tes buatan guru adalah tes untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik mencapai kompetensi setelah berlangsungnya proses pembelajaran yang dikelolah  oleh guru kelas yang bersangkutan.
3.      Pengertian standar dapat diartikan sebagai suatu tingkat kemampuan tertentu yang harus dimiliki peserta didik pada program-program tertentu.
4.      Salah satu perbedaan tes standar dengan tes buatan guru yaitu Tes standar bersifat seragam dan dipergunakan disemua sekolah, jadi bersifat nasional dan dapat dipakai berkali-kali. Sedangkan  tes buatan guru hanya dapat memergunakan  norma untuk kelompok terbatas, yaitu pada kelas- kelas yang dites dengan alat tes itu saja. Penggunaan norma inilah antara lain yang juga membedakan tes standar dengan tes  buatan guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar